Minggu, 09 September 2012

Refleksi Kebangkitan 2010















Wanita penghambat revolusi”...setujukah Anda?
Ya ungkapan ini kerap kita dengar sebagai guarauan bagi para aktifis. Harapannya memang hanya sebagai gurauan. Karena jika itu dijadikan serius maka seluruh aktifis muslimah yang ada didunia akan memberontak.
Ya...itulah sedikit prolog yang akan menghantarkan kita pada pandangan bahwa sesungguhnya wanita muslim dalam hal ini muslimah sebenarnya memiliki peranan yang sangat penting dalam perjuangan.
Mari kita sejenak mengingat gambaran para sahabiyah pada masa rasulullah yang dengan ikhlas dan istiqomah ikut andil dalam perjungan bersama rasulullah dan sahabat-sahabat lainnya. Nama ibunda khodijah, ibunda sumayyah, ibunda khonza, ibunda Aisyah, asma binti abu bakar, fatimah azzahra, dll. Merupakan para wanita tangguh yang kiprahnya dalam perjuangan tidak diragukan lagi baik oleh kalangannya maupun para pria di masa itu.
Mereka adalah sosok anak, ibu, istri, kakak dan adik bagi keluarganya. Tapi posisi itu tidak membuat mereka lemah dan berpasrah diri dengan kondisi itu. Dengan posisi-posisi itu mereka mengoptimalkan diri untuk tidak ketinggalan meraih pahala dalam memperjuangkan dien mulia ini. Ada yang turun di medan jihad bahkan ada yang syahid dan adapula yang hanya menjadi pendamping bagi suami mereka. Namun sekali lagi posisi itu tidak membuat mereka lemah. Meskipun mereka hanya dirumah mengurus keluarga mengatur rumah tangga mendidika anak-anak namun motivasi, do’a dan semangat senanatiasa teriring dalam setiap langkah suami, saudara, dan anak-anak mereka yang melangkahkan kaki dimedan pertempuran...subhanallaah.
Sosok rasulullah saw sebagai nabi yang diutus Allah untuk sleuruh ummat di dunia, siapakah yang berada dibalik kehidupannya? Yang senanatiasa mendampinginya, memberikan kekuatan disaat beliau merasa takut, memberikan semangat dikala sebagian besar pemuka-pemuka mekkah menghinakan beliau? Tiada lain tiada bukan sosok ibunda khadijah. Dibalik ketangguhan imam Ali ra ada sosok fatimah azzahra... begitupun dibalik kesuksesan imam syafi’i sebagai seorang imam yang hasil ijtihadnya menjadi pedoman bagi sebagian besar kaum muslim tentunya ada sosok ibu yang telah melahirkan, membimbing, mendidik dan memotivasinya.
Dari semua ini lantas, pantaskah wanita muslim menganggap dirinya sangat rendah di mata agama? Dengan posisinya hanya sebagai ibu pengatur rumah tangga? Tentu tidak
Saudariku, para muslimah khususnya aktivis muslimah...keberadaan kita bukanlah benalu bagi para pria. Keberadaan kita memiliki peran yang sangat besar bagi perjuangan. Dari rahim kitalah lahir generasi-generasi tangguh pewaris peradaban pelanjut perjuangan.
Saudariku, para muslimah khususnya aktivis muslimah, posisi kita sebagai (calon) ummun wa rabbatul ba’it merupakan posisi yang kadarnya dan pahalanya sama dengan pahala yang dioperoleh para pria ketika mereka berjuang. Tentunya itu akan kita dapatkan ketika kita mampu betul-betul mendudukan peran kita secara maksimal.
Saudariku, para muslimah khususnya aktivis muslimah. Pada pria juga ada kewajiban menuntut ilmu, berjuang dan berdakwah. Begitupun dengan kita. Di pundak kita ada tanggung jawab berdakwah, peran kita sebagai ummun warabbatul ba’it dan sebagai anak yang harus menjalankan birrul waalidaiin tidak melepaskan amanah dipundak kita sebagai pengemban dakwah. Oleh karena itu maksimalkanlah peran kita ini.
Saudariku para muslimah...tidakkah kita iri melihat saudar-saudari kita dibelahan bumi lain yang dengan ikhlas mempersembahkan nyawanya untuk mempertahankan agama ini? Tidakkah kita iri melihat mereka berani merasakan nikmatnya hidup dalam sel tahanan demi mempertaruhkan sebuah kalimat laa ilaha illallaah, tidakkah kita iri ratusan bahkan ribuan mulsimah yang tidak gentar meneriakkan takbirnya dalam setiap masyirioh yang dilakukan meskipun harus berhadapan dengan tank-tank zionis?
Saudariku..masihkah kita terlena dengan kehidupan kita yang glamor, manja dan masih sering menjadikan masalah pribadi kita sebagai masalah yang tebesar dalam hidup, sehingga kita menutup mata dan telinga kita terhadap apa yang menimpa ummat saat ini? masihkah kita meratapi nasib yang sampai detik ini belum memperoleh penghidupan yang cukup, belum memperoleh pendidikan bahkan sarana kesehatan yang memadai. Saudariku masihkah kita menjadikan individulaistik, hedonistik dan materialistik sebagai azzas berfikir kita?
Sungguh saudariku sebagai seorang muslimah semua itu sudah tidak pantas melekat dalam diri kita.
Kini yang seharusnya dan wajib kita lakukan adalah, mendongakkan kepala, bangkit dan berdiri melakukan perlawanan terhadap sisitem yang saat ini sudah membelenggu ummat. Sekali lagi peran kita sebagai muslimah sangat besar. Ditangan kitalah tanggung jawab mendidik generasi yang pertama dan utama agar mereka nanti menjadi pengisi-pengisi barisan perjuangan dalam melawan kedzoliman sistem kapitalis sekularisme..
Kini menjadi pertanyaan bagi kita semua para aktivis muslimah..apa yang sudah antunna lakukan untuk perjuangan ini? Sudah berapa besar pengorbanan antunna dijalan dakwah ini, sudah berapa jam yang antunna habiskan untuk ummat ini?
Mari kita dudukkan kembali posisi kita yang semestinya sebagai hamba Allah. Sebagai muslimah yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan pekikan takbir perjuangan, yang senantiasa membekali dirinya dengan tsaqofah peradaban. Yang senantiasa mengiringkan langkah perjuangannya dengan tetesan airmata ketegaran, semangat perlawanan, dan doa’ pengharapan.
Sungguh mulia dirimu okh...saudariku...Allah telah mendudukkan kita begitu mulia bahkan jika dunia ini diumpamakan sebagai perhiasan ternyata kitalah perhiasan yang terbaik didalamnya...
Oleh karena itu, mari kita berlomba-lomba mewarisi perjuangan ibunda khadijah, ibunda aisyah, ibunda khanza, ibunda fatimah azzahra dan ibunda Sumayyah. Karena sekali lagi...kita para wanita memiliki posisi dengan pria bahkan partner mereka dalam mewujudkan kebangkitan Islam yang hakiki...Allahu Akbar...
Diperuntukkan bagi para aktivis muslimah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar