Minggu, 09 September 2012

Totalitas dalam ber-Syariat




Pondasi Aqidah di Usia Dini
“Mendidik anak sedari kecil adalah ibarat mengukir di atas batu.” Sabda Nabi saw tersebut sangat tepat untuk menggambarkan pentingnya mendidik anak sedini mungkin. Anak yang masih kecil, mendidiknya membutuhkan kesabaran karena harus terus mengulang-ulang konsep yang hendak ditanamkan. Namun begitu konsep tersebut sudah masuk, maka ia akan tertancap dengan kuat di sana, sulit hilang seperti ukiran di atas batu.

Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Masa usia dini merupakan masa keemasan (golden age) dimana stimulasi seluruh aspek perkembangan berperan penting untuk tugas perkembangan selanjutnya. Pada masa ini pertumbuhan otak berlangsung sangat pesat (eksplosif). Perkembangan pada tahun-tahun pertama sangat penting menentukan kualitas anak di masa depan. Perkembangan intelektual anak usia 4 tahun telah mencapai 50%, pada usia 8 tahun mencapai 80% dan pada saat mencapai sekitar 18 tahun perkembangan telah mencapai 100%. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa informasi awal yang diterima anak akan cenderung permanen dan menentukan perilaku anak pada masa berikutnya. Oleh karenanya anak perlu rangsangan psikososial dan pendidikan.

Bagi anak, pendidikan yang tepat pada usia dini akan menjadi pondasi keberhasilannya pada masa yang akan datang. Pendidikan agama tidak pelak lagi menjadi suatu kebutuhan bagi anak usia dini untuk membentuk kepribadian Islam. Secerdas apapun seorang anak, tanpa memiliki pendidikan agama sebagai landasan hidupnya, maka hidupnya di dunia tidak ada nilainya. Rasulullah saw bersabda :

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah” (HR. At tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, dan al-Hakim).

Dengan demikian pendidikan agama adalah kerangka yang kita gunakan dalam membentuk anak usia dini. Ilmu-ilmu lain seperti matematika, membaca, kesenian, sains dan sebagainya adalah pelengkap, yang memberi warna dan penampakan luar bagi kerangka tersebut.
Yang terpenting bagi orangtua adalah mengubah paradigma berpikir tentang anak. Selama ini orangtua berpandangan bahwa anak adalah asset, tempat orangtua bergantung nanti saat tua telah datang. Paradigma semacam ini menempatkan anak dalam rangka kebutuhan orangtuanya. Anak diarahkan untuk bisa bekerja, mencari uang untuk menghidupi orangtua kelak.

Ada pula paradigma yang lahir dari ide kapitalis-liberalis. Bahwa anak adalah individu yang unik dan berbeda. Maka anak diberi hak untuk bebas dalam menentukan pilihan, bebas untuk berkembang menjadi apapun yang ia inginkan. Bahkan sampai dikeluarkan konvensi hak anak yang mencakup juga hak anak untuk memeluk agama berbeda dari orangtuanya.

Paradigma yang seharusnya kita bangun adalah setiap anak memiliki hak untuk masuk surge kelak. Orangtua harus memastikan agar anak memperoleh haknya tersebut. Dengan demikian, orangtua mendidik anak untuk menjadikan hidupnya sebagai ladang amal. Bila anak menyimpang, orangtua wajib untuk meluruskan anak, sekalipun untuk meluruskan tersebut orangtua harus melakukan pemaksaan.

Paradigma semacam ini akan membuat orangtua berupaya mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Orangtua dengan cermat akan mengidentifikasi hal-hal apa yang bisa mengantarkan anak untuk meraih keridhaan Tuhannya dan apa saja yang bisa menghalanginya. Ia akan merumuskan target-target yang harus dicapai dalam mendidik anak, bukan semata mengikuti keadaan dan keinginan anak, atau seperti mengikuti air mengalir saja. Ia memilih apa yang bisa membahagiakan anak di akherat sekalipun pahit, bukan apa yang membahagiakan anak di dunia tapi mencelakakan akheratnya.

Untuk menguasai metode pendidikan anak yang paling tepat, kita terlebih dahulu harus mengenali potensi, karakter dan tahapan perkembangan anak dan menetapkan target-target yang jelas.
Mendidik anak usia dini pada dasarnya adalah mempersiapkan mereka untuk mampu menerima beban taklif hukum syara’ pada saat mereka mencapai usia baligh. Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, antara lain :

Mempersiapkan indera, otak, fisik, emosi, dan seluruh potensi hidup anak sehingga pada tahapan selanjutnya (usia pra baligh dan baligh) telah terlatih dan dapat melakukan aktivitas berpikir dan bersikap berdasarkan Islam

Melakukan stimulasi (rangsangan-rangsangan) yang tepat sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini (0-6 tahun)
Tidak memberi sanksi dan pembebanan yang lebih dari kemampuan pada anak usia dini
Belajar dilakukan sambil bermain tidak dengan pemaksaan
Tidak memperlakukan mereka seperti orang dewasa yang telah sempurna akalnya hingga bisa mengendalikan diri dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri

Potensi Anak Usia Dini

Potensi yang dimiliki anak adalah sama dengan orang dewasa yakni akal, naluri dan kebutuhan fisik. Akal adalah proses berpikir pada manusia. Proses berpikir terjadi ketika indera menangkap fakta, kemudian mengirimnya ke otak yang menghubungkan fakta dengan informasi yang telah ada sebelumnya untuk mendapatkan suatu kesimpulan.

Untuk mengasah kemampuan berpikir anak, orangtua harus memberikan stimulasi pada komponen-komponen dalam aktivitas berpikirnya. Fakta yang dapat dicerap indera anak diperbanyak, misalnya dengan mengajak anak berjalan-jalan dan mengenalkan anak pada alam dan lingkungan di sekitarnya. Merangsang fungsi indera, seperti menyediakan berbagai mainan dengan berbagai warna, bentuk dan tekstur, memperdengarkan berbagai bunyi-bunyian, mengenalkan beraneka rasa dan seterusnya. Orangtua mengoptimalkan pertumbuhan otak anak dengan memberikan makanan bergizi dan menciptakan suasana penuh kasih sayang. Orangtua memberikan informasi-informasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak seperti mengenalkan nama-nama benda, memperkaya kosa katanya, membacakan cerita, mengenalkan anak pada Allah dan rasul, dan sebagainya.
Naluri memiliki tiga penampakan, yakni naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’), naluri melangsungkan keturunan (gharizah nau’) dan naluri mensucikan sesuatu (gharizah tadayyun). Ketiga naluri ini juga perlu mendapatkan stimulasi sedari dini.

Anak kita ajarkan untuk mengontrol emosinya, menyampaikan pendapat secara terbuka dengan cara yang ma’ruf dan memupuk rasa percaya dirinya dalam naluri baqa’. Untuk naluri nau’, anak kita ajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan, mengungkapkan kasih sayang kepada keluarga, dan bersilaturahim. Sedang untuk mengasah naluri tadayyunnya, kita ajak anak untuk mengenal Pencipta melalui alam semesta, menanamkan kekaguman atas keagungan-Nya dan mulai mengajak anak melakukan ibadah.

Untuk potensi yang terkait dengan kebutuhan fisik, maka yang perlu kita perhatikan adalah melatih kemampuan fisik anak, baik motorik kasar seperti berlari, melompat, merayap, berenang, dan sebagainya; juga motorik halus seperti menggunting, menggambar, menarik garis, menempel, dan sebagainya. Selain itu, dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya anak mulai kita kenalkan dengan konsep halal haram, sehingga nantinya ia memiliki standar dalam memenuhi kebutuhan fisiknya.
Karakteristik Anak Usia Dini

USIA 0-2 TAHUN
Anak berinteraksi secara fisik dan belajar dengan lingkungannya melalui panca indera (mencerap fakta dan informasi).
Pada awalnya perbuatan yang dilakukan hasil dari refleksi murni; lalu menjadikan dirinya sebagai obyek yang berhubungan dengan obyek-obyek lainnya (memperhatikan sesuatu yang menarik perhatiannya dan berusaha memintanya)
Anak belum dapat membedakan antara dirinya dengan lingkungan, karena itu ia menerima segala informasi yang datang dari luar dirinya, memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang lain, dan pasrah terhadap segala perlakuan yang diberikan kepadanya, baik yang sesuai dengan perkembangan dirinya maupun tidak sesuai dengan perkembangan dirinya.

Informasi yang masuk akan diterima anak dengan bentuk global (tidak memperhatikan bagian-bagian), langsung (diterima apa adanya dan langsung mengikutinya) , pasif (belum memberi tanggapan yang berarti), dan spontanitas (belum ada kontrol perilaku atau bahasa).

Cara berkomunikasi anak usia 0-1 tahun adalah melalui tangisan/jeritan; ocehan atau celoteh; isyarat serta ekspresi emosional, sedangkan pada usia 1-2 tahun anak mulai mengeluarkan bunyi (satu kata) yang mengandung arti yang berbeda-beda (sebagai satu kalimat penuh); menyebutkan dua kata dengan maksud yang lebih jelas (mampu mengatur kembali kata-kata dalam bahasanya).
Kemampuan berbahasa anak usia ini diperoleh melalui proses Imitasi (menirukan), pengulangan dan merangkai kata-kata.
Sedangkan cara bersosialisasi adalah dengan mengenal orang-orang yang biasa berada disekitarnya , mengajak berkomunikasi dan menjadikan mereka sebagai pemenuh kebutuhannya. Anak juga belum mudah beradaptasi dengan orang-orang/tempat-tempat yang baru dikenalnya. Dalam bermain, anak bermain sejajar, yaitu bermain sendiri-sendiri tidak ada kontak satu sama lain (bila ada kontak, maka yang terjadi perebutan dan penguasaan mainan).

Pada usia 0-2 tahun ini, anak diajarkan berbagai ketrampilan untuk hidup mandiri, seperti mengenakan pakaian, makan, minum, dsb. Periode ini juga periode perkembangan fisik yang pesat, sehingga anak perlu dirangsang untuk mengembangkan fisik dan motoriknya. Begitu juga dalam perkembangan bicara, anak perlu dirangsang dengan banyak mengajaknya berbicara, mengenalkan berbagai nama benda dan kosa kata baru, serta membacakan buku cerita anak yang sederhana.

Yang paling penting, anak disuasanakan dengan suasana islami untuk menumbuhkan minat dan kecenderungannya terhadap agama. Misalnya memperdengarkan ayat-ayat Al Qur’an, melibatkan anak dalam shalat, mengajarkan lagu anak-anak Islam, mengajarkan anak mengucap lafazh Allah dan Muhammad, membaca doa-doa harian, dan membiasakan anak perempuan memakai kerudung.

USIA 2-4 TAHUN
§ Latihan proses berpikir anak dilakukan dengan cara:
Pengalaman (segala sesuatu yang dialami dan dirasakan sebagai suatu pengalaman yang menyenangkan atau tidak menyenangkan)
Pengulangan (mengulang-ulang suatu perbuatan untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan atas perbuatan tersebut
Peniruan (imitasi):Mengikuti secara persis apa yang dilihat (perbuatan/perlaku) dan yang didengarnya (ucapan) orang disekitarnya
Perhatian (Memperhatikan segala sesuatu yang baru dan yang kontras terhadap apa yang dilihat dan didengarnya)
§ Eksploratif secara individu (menjelajah segala sesuatu yang menjadi perhatiannya termasuk dalam bentuk eksplorasi penolakan/pembangkangan)
§ Berpikir statis (tidak dapat berpikir dibalik), telah dapat mengatur secara serial
§ Sudah dapat membedakan dan mengklasifikasi bentuk dan warna
§ Sudah dapat berpikir secara simbolik (menyesuaikan diri dengan pola pikir orang lain dengan cara meniru gerakan dan ucapan orang lain)
§ Belum mampu berpikir secara logis dan abstrak masih bersifat egosentris (berpikir terhadap dirinya sendiri)
§ Cara Berkomunikasi pada usia ini adalah menggunakan bahasa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya (sudah mengerti hubungan sebab akibat) dan anak sudah bisa memberi umpan balik dalam berkomunikasi
§ Dalam hal bersosialisasi, anak sudah mulai melepaskan dirinya terhadap ketergantungan dengan orang lain. Ia sudah bisa bermain bersama dengan caranya sendiri-sendiri dan mulai bermain bersama dengan melibatkan dirinya
§ Disiplin sikap mulai dilatih tanpa harus memaksanya untuk melakukan dengan benar, begitu juga dengan disiplin waktu, karena anak belum bisa menerapkan disiplin waktu .

Selain terus mengajarkan apa yang harus diajarkan di tahap sebelumnya, anak usia ini sudah dapat diberikan stimulasi yang lebih luas. Untuk merangsang proses berpikirnya, anak diberikan kesempatan mengeksplorasi lingkungannya untuk mendapat pengalaman sebanyak-banyaknya dalam hidup. Misalnya dengan mengajak anak berjalan-jalan ke tempat-tempat yang berbeda, mengamati alam lingkungan dan melakukan berbagai aktivitas. Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengenalkan keberadaan Pencipta pada anak melalui pengamatan terhadap ciptaan-Nya.
Dalam memberikan informasi untuk merangsang proses berpikirnya, orangtua hendaknya tidak bosan untuk mengulang-ulangnya. Hal ini adalah bagian dari tahapan berpikirnya. Maka buang jauh prasangka kita bahwa anak “bandel” karena terus melakukan apa yang kita larang atau melanggar apa yang kita perintahkan.

Karena masa ini adalah masa imitasi atau peniruan, kita perlu memberikan contoh keteladanan yang baik untuk anak. Mengajaknya untuk ikut shalat, mengaji, dan melibatkannya dalam aktivitas dakwah kita adalah hal yang harus kita lakukan untuk membentuk kebiasaan dan karakter anak. Begitu pula memberikan keteladanan dalam berkata yang baik, berbuat baik, serta mengasah perasaan peduli dengan orang lain.

Untuk memunculkan jiwa kepemimpinannya, beri kesempatan pada anak untuk membuat keputusan, menghargai pendapat-pendapatnya, dan merangsang keberaniannya untuk tampil di hadapan orang lain.

Pada usia ini, anak dapat mulai diajak untuk menghafal surat-surat pendek. Sambil bermain, ibu dapat memperdengarkan surat-surat pendek berulang-ulang. Anak akan secara otomatis merekam, sehingga mudah baginya untuk hafal lebih cepat. Ditunjang dengan sifat imitasinya, yaitu meniru, maka sekalipun anak belum mampu melafazhkan dengan tepat, namun ia telah memiliki dasar untuk hafalannya. Begitu pula membacakan doa-doa rutin harian akan mempercepat anak untuk hafal dan menjadi kebiasaannya.

Hadist-hadist pendek juga sudah dapat mulai diajarkan. Ketika menegur anak, atau mengajarkan sesuatu, bacakan hadistnya. Misalnya saat anak bertengkar, kita dapat menyampaikan:”Kata nabi kita, al muslimu akhul muslim, sesama muslim itu bersaudara.” Membacakan hadist akan membangun ketaatan anak pada Rasulullah saw, dan memudahkan anak menerima beliau sebagai teladan. Anak juga akan terbiasa untuk terikat dengan dalil pada saat melakukan sesuatu.

USIA 4-6 TAHUN
Masa keingintahuan (mulai berpikir dengan 4W+1H). Anak menjadi banyak bertanya tentang segala apa yang dilihat dan menjadi perhatiannya. Anak menjelajah untuk mengetahui bagaimana terjadinya benda atau sesuatu itu, dan bagaimana ia dapat masuk atau menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Anak juga memiliki kreativitas yang tinggi, suka membongkar pasang mainan dan mengubah bentuk yang sudah jadi atau mainan bongkar pasang
Proses terbentuknya kemampuan berpikir, meliputi poin-poin sebagai berikut :
Pengalaman disimpan sebagai suatu pelajaran dan menjadi pemahaman bila diberi stimulus yang berhubungan dengan pengalaman tersebut

Mengeluarkan informasi yang diperoleh dikeluarkan dalam bentuk pemahaman (bukan sekedar pengulangan kata)

Pemahaman yang diperoleh belum mampu untuk direalisasikan, sebatas memahami sesuatu dan menanggapi atas pemahamannya
Belum mampu menjabarkan, menguraikan dan menjelaskan secara rinci terhadap pemahaman tersebut

Perkembangan sosialisasi : masa ini adalah masa bermain dan berkelompok. Anak , banyak menghabiskan waktu dengan bermain secara bersama-sama dengan teman sebayanya (bermain sosial). Anak sudah dapat membedakan antara benda miliknya dengan miliknya orang lain; sudah dapat berhubungan dengan orang lain dan akan mencari teman sebaya untuk menjadi anggota kelompoknya.

Anak sudah mampu membedakan antara dirinya dengan orang lain dan mampu mengerti apa yang dilakukan orang lain untuk dirinya. Namun di sisi lain anak belum mampu memposisikan dirinya pada tempat orang lain (empati).

Cara berkomunikasi:
Sudah mampu secara aktif mengambil peran dalam komunikasi dengan keluarga dan teman-teman sebayanya
Sudah mulai menunjukkan sikap suka protes dan tidak mau kalah dalam berbicara
Sudah mulai menggunakan kata-kata untuk mempertahankan pendapatnya
Masa negativisme, anak sering melakukan sesuatu yang bertentangan
Berusaha menunjukkan perhatiannya dengan melakukan berbagai aktivitas untuk dapat perhatian orang lain

Mulai dilatih untuk memahami perpindahan obyek dengan bentuk yang berbeda akan menghasilkan berat yang sama. Sudah mulai bisa menerapkan disiplin waktu
Anak sudah dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan akhlaq, ibadah (puasa,berwudlu, sholat) dan muamalah (pinjam-meminjam dan jual-beli).
Untuk anak usia 4-6 tahun, lebih banyak lagi stimulasi yang dapat kita berikan. Namun tetap dengan menciptakan suasana yang menyenangkan anak tanpa melakukan pemaksaan. Rangsang rasa ingin tahu anak dengan memberikan banyak fakta untuk dieksplor. Anak akan banyak bertanya pada usia ini, mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab semisal : aku darimana, Allah ada di mana, mengapa kita tidak dapat melihat Allah, kemana perginya orang yang mati, dan sebagainya. Berikan jawaban yang sederhana tetapi tidak membohongi anak. Bila mungkin sertakan dalil dari Qur’an dan hadist.

Untuk membentuk aqidah anak, kita teruskan mengenalkan ciptaan Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta. Selain itu berikan gambaran tentang berbagai nikmat Allah untuk menanamkan kecintaan anak pada-Nya. Misalnya bahwa Allah memberikan kita mata untuk melihat. Minta anak untuk berjalan dengan mata tertutup. Bagaimana bila Allah tidak memberikan mata untuk kita? Begitu pula setiap kita mendapat nikmat Allah, maka ceritakan pada anak dan ajak ia untuk mensyukurinya. Jelaskan bahwa Allah menyayangi kita. Dengan memahami kasih saying Allah, anak akan belajar untuk mencintai-Nya. Di kemudian hari, akan mudah bagi kita untuk memotivasi anak beribadah sebagai manifestasi cintanya kepada Allah.

Kenalkan juga anak dengan rukun-rukun iman lainnya. Untuk iman kepada yang ghaib seperti malaikat dan hari akhir, berikan dalil dari al Qur’an. Sedang keimanan terhadap al Qur’an, kita bisa jelaskan melalui bahasa sederhana, misalnya dengan penganalogan buku panduan penggunaan alat tertentu di rumah kita. Buku panduan penggunaan kompor misalnya. Bila kita langsung menggunakan kompor gas yang belum pernah kita kenal sebelumnya, maka bisa terjadi kesalahan yang berakibat fatal. Hidup adalah hal yang lebih penting dan lebih rumit. Maka Al Qur’an adalah buku manual manusia agar tidak salah langkah menggunakan hidupnya.

Tanamkan kecintaan anak kepada Rasulullah saw dengan menceritakan kisah-kisah perjuangan beliau, sifat-sifat beliau yang utama, dan kecintaan beliau kepada umat. Jelaskan juga bahwa cara kita mencintai beliau adalah dengan menjadikan beliau sebagai idola kita, teladan kita, mentaati semua ajarannya dan menjauhkan diri dari apa yang beliau larang dan tidak suka.

Sedangkan iman kepada qadha dan qadar Allah dapat kita jelaskan dari fakta yang ada di sekitar kita serta cerita-cerita, bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita, sekalipun kadang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Ajak anak untuk menghafal surat-surat yang lebih panjang dari juz amma. Tidak sulit insya Allah bila kita terus menerus mengulangnya. Anak memiliki kemampuan hafalan yang kuat. Sedangkan untuk belajar membaca Al Qur’an, bisa dimulai pada usia ini namun tidak dipaksakan. Usia ideal bagi anak untuk belajar membaca adalah 7 tahun. Bila kita berkeinginan memulainya sebelum itu, buatlah suasana belajar menjadi suasana bermain yang anak merasa nyaman di dalamnya. Tanpa tekanan, paksaan, atau unsur menyalahkan.

Untuk memotivasi anak dalam berbuat di usia ini, kita gunakan arah motivasi mendekat, yaitu motivasi yang membuat anak terdorong untuk melakukan hal yang ia anggap menyenangkan. Bukan motivasi menjauh, yakni menakut-nakuti anak untuk menghindar dari suatu perbuatan. Contoh motivasi mendekat adalah kalau ia berbuat kebaikan, maka Allah akan memberikan pahala dan akan menyayanginya. Bila Allah sayang, maka Allah akan membalas dengan surga yang penuh dengan kenikmatan. Ini akan membuat anak merasa bahwa Allah adalah dzat yang penyayang.

Sebaliknya, memberikan motivasi menjauh seperti bila ia berbuat maksiat Allah akan menghukumnya, atau nanti akan memasukkannya ke neraka, dapat menciptakan image di benak anak bahwa Allah itu kejam. Dengan demikian, kenalkan anak terlebih dahulu dengan surga. Bila ia telah tamyiz, mampu membedakan baik buruk dengan konsekuensinya, baru kenalkan anak pada konsep dosa dan neraka.

Motivasi mendekat dapat pula diberikan melalui pemberian hadiah dan pujian. Hadiah tidak selalu dalam bentuk materi, namun bisa berupa cium sayang, pelukan, acungan jempol dan sebagainya. Sedang untuk pujian, selama tidak terkait dengan ibadah, pujian sah-sah saja diberikan. Namun bila terkait dengan ibadah, seperti anak melakukan shalat, pujian harus kita ubah, bukan dengan mengatakan “anak umi shalih”, namun katakan “Allah pasti akan memberimu pahala yang besar,” atau “anak umi pasti akan disayang Allah.” Ini untuk menghindarkan anak dari sifat riya, yaitu beramal untuk mendapatkan pujian.

Di usia ini anak sudah bersosialisasi dalam kelompok. Untuk mencetak anak dengan karakter pemimpin, yang terpenting adalah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Rasa percaya diri dapat ditumbuhkan bila kita membentuk konsep diri yang positif pada anak. Konsep diri, yaitu cara pandang anak terhadap dirinya, bila positif, seperti aku anak pintar, anak shaleh, aku bisa, dan sebagainya, akan membuat anak menghargai dirinya sendiri dan menempatkan diri dalam relasi yang setimbang dalam pergaulan kelompok.

Suasana rumah yang terbiasa memberikan penghargaan kepada anak, memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapat dan membuat keputusan, memberikan kepercayaan pada anak untuk mengerjakan tugas-tugas yang mampu dikerjakan anak, serta menganggap anak memiliki posisi yang penting dalam keluarga, akan membentuk sikap kepemimpinan pada anak. Sikap ini tinggal dipupuk terus agar kelak lahir seorang pemimpin besar.
Target Pendidikan untuk Anak Usia Dini

Kita perlu membuat target dalam mendidik anak agar kita memiliki arah yang jelas seperti apa kita mendidik mereka. Target akan membuat langkah kita lebih fokus. Target sebaiknya kita buat dalam parameter-parameter yang terukur, bukan dalam bentuk global seperti menjadikan anak kita anak yang shaleh. Bagaimana kriteria shaleh untuk anak usia dini? Perlu kita jabarkan lagi.
Target yang harus kita capai dalam pendidikan anak usia dini adalah sebagai berikut:
Anak telah mengenal Allah dan rasul-Nya serta rukun iman yang lain
Anak hafal juz Amma
Anak dapat mengerjakan sholat dengan sempurna (gerakan dan bacaannya)
Anak hafal hadits dan do’a sehari-hari.

Anak mengenal konsep pahala dan sorga, yang tampak dalam aktifitas sehari-hari, misalnya : gemar beribadah, gemar berbagi (memberi kepada orang lain ), gemar menolong orang lain dan senang melindungi yang lemah, mau mengalah (mendahulukan kepentingan orang lain), sabar (menunggu giliran, menyelesaikan pekerjaanya)

Anak memiliki kemampuan untuk bekerjasama dalam kelompok
Anak memiliki kepercayaan diri dan jiwa kepemimpinan yang kuat
Untuk anak perempuan, telah terbiasa menutup aurat saat bepergian keluar rumah
Dengan adanya target-target ini, kita sebagai orangtua akan lebih mudah untuk mengevaluasi kemampuan anak di setiap tahapan umurnya.

Inilah beberapa prinsip dalam mendidik anak di usia dini. Ibu, yang merupakan pelaku utama dalam proses pendidikan ini, harus selalu belajar dan mengembangkan kreativitas dalam memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak. Sekalipun sekolah-sekolah untuk anak usia dini telah banyak, termasuk yang bernafaskan Islam, tetapi tetap peran orangtua, terutama ibu tidak tergantikan.

Dari orangtualah anak mendapatkan pembiasaan, keteladanan, kasih sayang dan pengertian. Maka orangtua juga perlu ikut membenahi diri, mendidik diri sehingga mampu mendidik anaknya. Dengan cara inilah maka kita dapat menunaikan amanah yang diberikan Allah dan siap mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar