Minggu, 09 September 2012

MHTI Jateng Kritisi Program Pemberdayaan Ekonomi perempuan



HTI Press. Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan digadang-gadang pemerintah akan mampu menyelesaikan permasalahan KDRT dan kemiskinan yang menimpa perempuan saat ini. Berbagai asumsi dilempar untuk meng-golkan program ini. Nyatanya bukanlah kesejahteraan perempuan yang didapatkan namun justru kerusakan bertubi-tubi yang diperoleh. Ketika perempuan dan ibu berlomba untuk beraksi di ranah publik, tugas utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga menjadi terabaikan. Perhatian kepada anak dan suami diberikan disertai rasa lelah karena sibuk beraktivitas “produktif” di luar rumah.
Untuk mengkritisi Program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Muslimah HTI DPD I Jawa Tengah dan DPD 2 Kota Semarang melakukan serangkaian kegiatan.
1. Roadshow Media
Media sebagai salah satu pilar demokrasi merupakan salah satu corong yang digunakan untuk propaganda program PEP. Media dengan opini yang dibawakan akan mudah untuk menggiring Ibu dan perempuan mengikuti berbagai program PEP. Untuk itu Muslimah HTI DPD I Jateng melakukan kunjungan ke media yang ada di Kota Semarang, yakni ke TVKU pada Selasa, 14 Desember 2010 pukul 09.30 dan Cakra SemarangTV pada Rabu, 15 Desember pukul 13.30. Pada kedua media elektronik tersebut, delegasi yang dipimpin oleh Ketua MHTI DPD I Jateng, Ustadzah Ratih Respatiyani mengungkapkan kesalahan asumsi yang dibangun untuk penetapan program PEP. Asumsi bahwa perempuan yang tidak memiliki penghasilan sendiri akan mudah terkena KDRT, ternyata yang terjadi kemudian setelah perempuan memiliki penghasilan sendiri, angka gugat cerai justru semakin meningkat di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Dan diungkapkan pula bahwa program PEP ini tidak akan bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan kemiskinan yang terjadi pad bangsa ini.
2. Aksi Ibu Peduli generasi
Bertepatan dengan peringatan hari ibu tanggal 22 Desember 2010, Muslimah HTI DPD 2 Kota Semarang melaksanakan Aksi Ibu Peduli Generasi: Ibu Indonesia Tolak Kapitalisme dengan Syariah dan Khilafah. Aksi longmarch dilaksanakan mulai pukul 09.00 dari pelataran masjid Baiturrahman kawasan Simpang Lima menuju Videotron Jl.Pahlawan. Dalam orasi yang disampaikan di hadapan peserta aksi , Ustadzah Sri Endah Abdullah (Lajnah Faaliyah MHTI) menggambarkan tipu daya kapitalisme untuk mengentaskan kemiskinan perempuan melalui program pemberdayaan ekonomi perempuan dan sebutan TKW sebagai pahlawan devisa. Usaha itu bukanlah solusi bagi masalah kemiskinan perempuan namun justru semakin menyengsarakan perempuan. Selanjutnya, Ustadzah Indra Lestari (MHTI Kota Semarang) mengambil tema “Kembalikan Ibu pada fitrahnya”. Kapitalisme telah mengoyak fitrah ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga dan menarik para ibu untuk berkiprah di ruang publik hingga mengabaikan peran pentingnya mendidik generasi bangsa ini. akibatnya keretakan rumah tangga, gugat cerai dan kenakalan anak dan remaja bukanlah hal yang asing di era kapitalisme ini. Orator terakhir Ustadzah Ratih Respatiyani (Ketua MHTI DPD I Jateng) menyampaikan bahwa “Khilafah Menjamin kesejahteraan masyarakat”, sistem ekonomi kapitalisme yang telah terbukti nyata menyengsaraan dan memiskinkan masyarakat harus diganti segera dengan sistem ekonomi islam dalam bingkai penegakan Khilafah Islamiyah. Sistem inilah yang akan mampu menjamin kebutuhan pokok masyarakat, dan pemenuhan kebutuhan perempuan akan diatur dengan mekanisme yang jelas yakni wali, keluarga, masyarakat dan negara. Perempuan secara khusus dan masyarakat secara umum akan hidup aman dan sejahtera di bawah naungan Khilafah Islamiyah.
Selain orasi, dalam aksi ini juga ada aksi teatrikal tentang penindasan yang dilakukan kepada perempuan dan gambaran kerusakan generasi saat ini. Kemudian aksi damai ditutup dengan dibacakan pernyataan sikap Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Mari Ibu Indonesia, Tolak Kapitalisme, Selamatkan Generasi Bangsa ini dari kehancuran dengan Syariah dan Khilafah.
3. Forum Muslimah untuk Peradaban
Puluhan tokoh muslimah dari berbagai kota di Jateng Utara (pantura) hadir di Rumah makan Padang Nusantara, Ahad, 19 Desember 2010 pukul 09.00 dalam acara Forum Muslimah untuk Peradaban: Pemberdayaan Ekonomi Perempuan antara Harapan dan Kenyataan. Acara yang diselenggarakan Muslimah HTI DPD I Jateng ini menghadirkan Ustadzah Siti Maryam dari Muslimat NU Blora dan Ustadzah Hayyin Thohiro (DPP MHTI), keduanya menyampaikan gambaran perempuan dan kemiskinan yang terjadi saat ini. Ternyata kemiskinan tidak akan terselesaikan dengan berbondong-bondongnya perempuan mengambil peren akonomi di ranah publik. Bukannya menyelesaikan masalah akan tetapi justru mendatangkan masalah baru dalam keluarga dan pendidikan anak, dan tentu ini akan berbahaya bagi kelangsungan generasi yang mandiri dan berjiwa pemimpin bagi negeri ini.
Ustadzah Hayyin Thohiro memaparkan bahwa Islam memiliki mekanisme yang khas untuk menyelesaikan kemiskinan pada wanita yakni melalui penafkahan oleh suami, nafkah melalui jalur wali/kerabat kemudian peran serta masyarakat yang ditumbuhkan untuk melakukan sekedah, infaq dan zakat, dan tak kalah penting peran negara untuk mengentaskan kemiskinan.
4. Konferensi Pers
Seusai acara Forum Muslimah untuk Peradaban, MHTI DPD I Jateng mengadakan konferensi pers untuk kembali menjelaskan Kritisi atas Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Hadir dalam konferensi ini wartawati dari RRI Semarang, TVRI Jateng dan Radar Semarang. (FH/12)
Salah satu kegiatan yang di laksanakan Muslimah HTI





Tidak ada komentar:

Posting Komentar